“ Berdirinya Dinasti Al Ayyubiyah “
Berdirinya Dinasti Ayyubiyah berawal dari masa berakhirnya kekhalifahan Dinasti Fatimiyah yaitu setelah khalifah terakhir Al-Adid meninggal pada tahun 1171 M, dan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi mengambil kekuasaan penuh untuk menjalankan pemerintahannya dalam bidang keagamaan dan politik.
Dalam menjalankan pemerintahannya Dinasti Ayyubiyah berbeda dengan Dinasti Fatimiyah yang berdiri sendiri. Dinasti Ayyubiyah masih mengakui kekhalifahan Dinasti Abbasiyah. Pada saat Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi memegang tumpuk pimpinan, Bani Abbasiyah di Bagdad diperintah oleh Khalifah Al-Mustadi. Di samping Dinasti Abbasiyah, penguasa daerah islam yang lain adalah Dinasti Seljuk, yang saat itu diperintah Sultan Arslan Syah (1161 – 1175 M).
A. Berdirinya Dinasti Ayyubiyah
Dinasti Ayyubiyah berlatar belakang Sunni yang berkuasa di Mesir, Suriah, sebagian Yaman, Irak, Mekah, Hijaz dan Diyarbakir (wilayah tenggara Turki). Dinasti Ayyubiyah didirikan oleh Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi, nama asli beliau adalah Abdul Muzaffar Yusuf bin Najmuddin bin Ayyub. Ia merupakan seorang putra dari Najmuddin bin Ayyub seorang keturunan suku Kurdi dari Azerbaijan. Dinasti ini merupakan keturunan dari Ayyub maka bani ini disebut Dinasti Ayyubiyah. Kesultanan Ayyubiyah menggantikan kesultanan Fatimiyah yang bermazhab Syi’ah. Salahuddin Al-Ayyubi memulai karir politiknya ketika usia masih muda. Ayahnya menjabat sebagai komandan pasukan di kota Ba’labak(sebelah utara Suriah). Najmuddin bin Ayyub ditunjuk menjadi komandan oleh Nuruddin Zanki, panglima militer yang berkuasa saat itu.
Sebenarnya pada waktu Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi masih muda kurang diperhitungkan dan kurang dikenal di kalangan masyarakat. Ia merupakan seorang pemuda yang senang berdiskusi tentang keagamaan seperti tentang ilmu kalam, ilmu fiqih, Al-Qur’an dan hadits. Pada suatu saat Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi diperkenalkan oleh ayahnya kepada Nuruddin Zanki, gubernur Suriah dari Bani Abbasiyah.
Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi dipercaya sebagai kepala garnisun di Ba’labak. Di dalam karirnya sebagai pembesar militer di kerajaan, kehidupan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi penuh perjuangan dan peperangan. Hal ini dilakukan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi dalam rangka menunaikan tugas negara untuk memadamkan suatu pemberontakan, di samping itu juga untuk menghadapi tentara Salib. Namun peperangan demi peperangan dapat ia menangkan.
Walaupun demikian, Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi bukan tipe pemimpin yang haus akan kekayaan, kekuasaan dan haus darah. Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi juga bukan pemimpin yang ambisius. Walau sering ia mengalami peperangan, namun dilakukan hanya untuk mempetahankan dan membela martabat dan agama. Selain itu Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi mempunyai toleransi yang tinggi terhadap umat beragama lain. Pada saat Salahuddin dapat menguasai Iskandariyah, ia tidak segan-segan mengunjungi orang-orang Kristen. Bahkan pada waktu perdamaian tercapai dengan tentara Salib, ia membolehkan orang-orang Kristen untuk berziarah ke Baitul Makdis.
Kariernya sebagai tentara begitu cemerlang, keberhasilannya mulai dapat terlihat pada waktu usia 26 tahun mendampingi pamannya, Asaduddin Syirkuh tahun 1164 M, yang mendapat tugas dari Nuruddin Zanki untuk membantu Bani Fatimiyah di Mesir. Lima tahun kemudian, tepatnya tahun 1169 M, Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi diangkat menjadi wazir (gubernur) oleh penguasa Dinasti Fatimiyah. Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi membantu perdana menteri Syawar (Dinasti Fatimiyah) yang kekuasaannya digulingkan oleh Dirgam menjanjikan imbalan sepertiga pajak tanah wilayah Mesir. Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi behasil mengalahkan Dirgam. Pedana Menteri Syawar akhirnya berhasil mengalahkan Dirgam dan berkuasa kembali pada tahun 560 H/1164 M.
Setelah tiga tahun kemudian, Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi kembali lagi mendampingi pamannya ke Mesir, sebab Perdana Menteri Syawar bersekutu dengan Amauri, yaitu seorang panglima perang dari tentara Salib yang dahulunya pernah membantu Dirgam. Keadaan ini tentu akan membahayakan kedudukan Nuruddin Zanki dan umat Islam. Pasukan Islam yang dipimpin Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi mengalami peperangan yang sangat dahsyat dengan pasukan Syawar yang dibantu Amauri. Akhirnya Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi beserta tentaranya berhasil menduduki Iskandariyah, namun ia beserta pasukannya dikepung dari darat dan laut oleh tentara Salib. Peperangan ini berakhir dengan 10 perjanjian damai pada bulan Agustus 1167 M. Adapun salah satu isi dari perjanjian tersebut adalah pertukaran tawanan perang.
Amauri kembali ke Yerusalem dan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi kembali ke Suriah, daerah Iskandariyah diserahkan kembali kepada Perdana Menteri Syawar.
Pada tahun 1169 M, pasukan Salib yang dipimpin oleh Amauri melanggar pejanjian damai, dengan pasukannya ia menyerang Mesir dan bermaksud menguasainya. Hal ini tentunya sangat membahayakan keadaan umat Islam. Mereka banyak membunuh rakyat Mesir setra berusaha menggulingkan pemerintahan Khalifah Al-Adid dari jabatannya. Melihat kondisi ini menjadikan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi dan Assadudin Syirkuh kembali ke Mesir. Akhirnya Amauri berhasil dikalahkan dan Mesir dapat dibebaskan dari ancaman tentara Salib. Namun dengan keberhasilannya itu, Assadudin Syirkuh dan Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi dibenci oleh Perdana Menteri Syawar, oleh sebab itu keduanya hendak dibunuh. Tetapi rencana itu diketahui oleh Assadudin Syirkuh, dan Perdana Menteri Syawar behasil ditangkap, dan Perdana Menteri Syawa dihukum mati oleh Khalifah Al-Adid.
Sebagai hadiah atas jasa-jasanya dalam memerangi Syawar dan pengikutnya, Assadudin Syirkuh diangkat perdana menteri di Mesir oleh Khalifah Al-Adid pada tahun 1169 M. Inilah pertama kalinya keluarga Ayyubi mendapat kedudukan yang tinggi sebagai perdana menteri.
Tetapi Assadudin Syirkuh menduduki jabatan sebagai perdana menteri hanya selama bulan karena meninggal. Selanjutnya Khalifah Al-Adid mengangkat Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi untuk menggantikan pamanya. Pada saat itu ia baru berumur 32 tahun, sebagai perdana menteri ia mendapat gelar Al-Malik An-Nasir (Penguasa yang bijaksana).
Setelah khalifah terakhir dari Dinasti Fatimiyah, yaitu Al-Adid meninggal pada tahun 1171 M, Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi dapat berkuasa penuh dalam menjalankan peran keagamaan dan politik. Sejak saat itulah Dinasti Ayyubiyah mulai berkuasa hingga 75 tahun lamanya.
Setelah Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi berhasil menguasai Dinasti Fatimiyah, ia menghapus kebiasaan mendo’akan Khalifah Fatimiyah dalam khutbah Jum’at. Tradisi diganti dengan mendo’akan Khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu Al-Mustadi yang berkuasa 566 H/1170 M -> 575 H/1180 M. Namun demikian, ia tidak menghilangkan rakyatnya yang ikut faham Syi’ah
Sejak Dinasti Ayyubiyah berkuasa di Mesir bulan Mei 1175 M, Al-Mustadi memberikan beberapa daerah seperti Yaman, Palestina, Suri’ah Tengah, dan Magribi kepada Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi. Dengan demikian ia mendapat pengakuan dari Khalifah Abbasiyah sebagai penguasa di Mesir, Afrika Utara, Nubia dan Hijaz. Selama 10 tahun(1 dasawarsa) kepemimpinan kemudian Salahuddin Yusuf Al-Ayyubi menaklukan Mesopotamia( Irak & Iran). Ia mengangkat para penguasa menjadi pemimpin.


